Sabtu, 22 November 2014

See a Different World



Ini pertama kalinya gue partisipasi dalam acara kampus atas kehendak sendiri. Awalnya gue juga nggak ngerti kenapa gue tertarik dengan acara tersebut, tetapi setelah gue ikutin acaranya walau hanya duduk manis dan makan gue mendapatkan pengetahuan baru yang gue yakin akan bermanfaat untuk diri gue ke depannya.
Hari ini gue bertemu dengan orang-orang yang hebat di bidangnya. Mereka mengemukakan pengalaman yang menurut gue sangat luar biasa. Mereka membagikan apa yang mereka miliki dan yang telah mereka pelajari. Gue semakin mengerti mengapa ilmu begitu penting bagi kehidupan. Hal yang membahagiakan bukanlah ketika kita mengerti terhadap ilmu yang kita pelajari melainkan seberapa banyak ilmu yang telah kita bagikan kepada orang lain sehingga apa yang kita pelajari itu dapat bermanfaat.
Sering gue mengeluh dengan tuntutan tugas yang harus gue penuhi. Jujur gue muak dengan semua itu. Tetapi, entah ada bisikan dari mana. Ketika gue mencoba untuk memahami semua materi yang dibawakan para speaker di depan, gue berpikir bahwa apa gunanya hidup jika tidak bermanfaat untuk orang lain. Sebenarnya pemikiran gue agak melenceng dari materi yang disampaikan pemateri, karena beliau-beliau ini berbicara mengenai public speaking sedangkan gue berpikir mengenai kehidupan.
Apa yang gue akan berikan kepada orang lain jika gue sendiri juga belum mendapatkan sesuatu yang harus diberikan? Padahal selama ini banyak sekali pelajaran yang seharusnya sudah gua pahami. Tapi karena kemalasan atau ketidak pedulian gue, maka gue ngerasa bahwa semakin hari gue semakin bodoh. Dan imbasnya, gue hanya berdiam diri ketika orang lain selalu progres dengan apa yang mereka lakukan. Dan malam ini, gue mencoba untuk membuat planning tentang apa yang akan gue lakukan ke depannya. Semoga apa yang akan gue lakukan itu dapat bemanfaat khususnya bagi gue pribadi dan umumnya untuk orang lain.

Jumat, 07 November 2014

What's the Meaning of Free?




Sekarang gue gak paham tentang apa itu kebebasan. Senior gue cerita, terkadang 24 jam itu adalah waktu yang kurang bagi manusia-manusia yang memiliki kesibukan luar biasa. Namun bagi gue, jangankan 24 jam, satu menit saja terasa begitu lama. Mungkin gue gila. Tapi mungkin juga tidak bagi orang yang tidak menyukai kondisi yang tidak nyaman. Walapun dosen gue mengatakan bahwa kenyamanan itu berbahaya, tapi gue membutuhkan itu. Gue ingin merasakan sedikit kenyamanan ketika gue berada di tengah orang-orang yang begitu multikultural.

Ketika teman-teman gue menikmati setiap kebersamaan yang terlewati setiap harinya, gue ikut berbaur tapi tidak menikmati kebersamaan itu. Kesalahan bukan ada pada mereka, melainkan pada diri gue sendiri. Anggapan bahwa kebersamaan yang semu, itu selalu terngiang di benak gue. Kebersamaan hanya ada dalam kondisi tertentu itu yang gue rasakan. Gue sedikit menutup diri untuk mereka yang tidak cocok dengan pribadi gue. Apakah banyak dari mereka yang tidak menyukai sifat gue? Pastinya ada, dan itu tidak membuat gue  terbebani, toh gue tidak menuntut siapapun untuk menyukai gue dan menjadikan gue orang yang disegani oleh siapapun dengan pribadi yang palsu karena gue tidak menginginkan hal itu.
Teman-teman gue begitu sibuk tidak hanya dengan tugas yang diberikan dosen, tetapi juga dengan organisasi-organisasi yang sekarang gencar mencari kader-kader baru. Mereka dapat merealisasikan rekomendasi dosen-dosen yang mengatakan bahwa laboratorium mahasiswa sosial itu adalah organisasi. Sedangkan gue, gue masih sibuk dengan adaptasi yang entah kapan akan berakhir. Ajakan dari teman-teman gue hanya gue jawab dengan senyuman atau kata-kata yang gue sendiripun tidak begitu mengerti dengan apa yang gue ucapkan. Gue bertepuk tangan untuk mereka yang gue anggap luar biasa dan terkadang mentertawakan diri sendiri ketika kondisi mendesak gue.
Selalu ada keanehan yang membuat gue belum merasa nyaman. Sebagian orang hanya menyemangati orang tertentu karena orang-orang tersebut memiliki ikatan batin entah itu pertemanan atau kepentingan gue pun nggak tau, dan sebagian lagi menyemangati semua orang yang dianggapnya sebagai orang yang berhak mendapatkan itu. Itu yang pernah gue alami ketika gue berjuang dalam suatu acara. Gue memang tidak begitu berperan besar di sana. Tapi karena hal itu, saya menjadi enggan untuk berpartisipasi dalam acara-acara selanjutnya. Gue anggap semuanya wajar, karena manusia yang terlahir kembar sekalipun tidak akan memiliki sifat yang persis sama. Gue pun tidak bisa menuntut mereka untuk menjadi apa yang gue inginkan dan merekapun sebaliknya, tidak bisa menuntut gue untuk menjadi seperti yang mereka inginkan.

Rabu, 24 September 2014

Bak Alien yang Tiba-Tiba Datang ke Bumi



Apakah gue termasuk orang yang penakut, ataukah orang yang egois, gue pun belum tahu tentang itu. Intinya gue belum tertarik dengan kegiatan-kegiatan organisasi yang memang menunjang dalam study gue. Melihat teman-teman gue begitu antusias dalam setiap acara yang diselenggarakan di tempat gue berada saat ini, rasanya bangga. Mereka menikmati apapun yang diinstruksikan para panitia. Setiap keluhan yang mereka rasakan itu hanya sekedar luapan emosi yang tak tersalurkan saat persetujuan kontrak, namun mereka kembali normal ketika mereka sadar bahwa ini sebuah bentuk penerimaan anggota baru di keluarga besar himpunan study kami.
Gue memperhatikan bertapa teman-teman gue sangat sibuk setiap hari. Mereka mencoba untuk memenuhi semua tuntutan yang telah mereka sepakati dalam kontrak. Tapi gue, gue hanya disibukan dengan pikiran gue sendiri. Gue selalu bertanya dalam hati, manfaat yang nyata dari semua itu apa? Gue bertanya demikian karena gue belum menyukai tempat gue sekarang atau memang gue nggak mau peduli dengan kegiatan itu, gue juga belum tahu. Bagi sebagian orang kegiatan itu penting untuk membentuk pribadi yang tangguh dan dapat berbaur dengan siapapun tanpa batasan usia. Dan bagi sebagian orang lagi berpendapat bahwa kegiatan tersebut tidak terlalu penting karena sosialisasi antar manusia akan terbentuk secara alami tanpa efek “pemaksaan”. Entahlah, gue nggak memihak kepada keduanya. Yang sedang gue lakukan saat ini adalah mencoba untuk beradaptasi dengan tempat baru ini dan berusaha untuk memahami apapun yang penting dan berpengaruh terhadap diri gue. Untuk ke depannya, mungkinkah gue akan tertarik kepada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di tempat gue atau tidak sama sekali? Gue benar-benar tidak tahu.

Sabtu, 06 September 2014

Let's See The Real Life



Melangkah ke dunia yang sebelumnya tak pernah gue bayangkan. Benar kata orang-orang yang telah mengalaminya bahwa dunia tersebut tidak seperti disinetron ataupun di FTV. Dunia ini adalah gambaran kecil dari kehidupan masyarakat yang gue sendiri belum memahami sepenuhnya. Gue merasakan keraguan. Terlebih ketika orang-orang menanyakan tentang alasan gue memilih dunia yang juga mereka pilih. Apakah gue tersesat? Mungkin, karena sampai saat ini gue belum mendapatkan jawaban tentang kemelut batin sendiri.
Tantangan di depan akan semakin sulit, terlebih kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dengan batasan waktu. Belum lagi dengan sederet perasaan yang terkadang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi. Semuanya akan membuat keraguan semakin besar. Pasti akan ada kejenuhan. Dan gue berharap setelah situasi itu, gue bisa mendapatkan aura yang lebih baik dan menemukan jawaban tentang semua pertanyaan yang sekarang sayapun belum tahu jawabannya.
Setidaknya, saya belajar dari ini semua. Perjuangan untuk sukses itu sangat sulit. Banyak yang harus dikorbankan. Banyak tekanan internal maupun eksternal terutama tekanan batin. Tinggal  jauh dari orang-orang tersayang dan tinggal sendiri di perantauan. Bahkan kadang gue harus mengabaikan kerinduan disetiap gue benar-benar sedang sendiri.
Kehidupan di sini begitu keras. Ada beberapa hal yang menjadi kebanggaan seseorang atau sengaja disombongkan. Gue sedikit terusik dengan itu semua. Kadang gue juga merasa ingin seperti itu. Tapi ketika gue benar-benrar merenung, itu hanyalah nafsu sesaat yang mencoba membuat gue goyah. Tak gue pedulikan gengsi-gengsi yang akhirnya akan menjadi perpecahan di dalam diri gue sendiri.
Yang gue perjuangkan sekarang ini bukan hanya mimpi-mimpi gue sendiri. Tetapi dibalik itu semua gue punya tanggung jawab yang lebih besar. Tangung jawab yang nantinya akan dipertanyakan. Dan semua itu menyangkut nama baik keluarga besar. Gue tidak mungkin menorehkan keburukan sekecil apapun pada nama baik keluarga gue yang telah dibangun oleh para leluhur kami.
Perjalanan masih panjang. Ujian yang lebih berat pun akan semakin banyak, dan gue harus siap menghadapinya. Gue yakin kesuksesan telah menunggu di depan sana. Gue tinggal mengambilnya dengan segenap kesungguhan, usaha dan doa. Gue akan membuat orang-orang yang selama ini mencibir gue dan orangtua gue bungkam. Gue akan membuat orang-orang yang memuji dan mendoakan gue bangga. Satu yang tak prnah gue lupakan bahwa Tuhan itu maha segalanya. Dia yang tahu tentang kehidupan gue, dan Dia yang berkuasa atas diri gue. Gue bisa sampai pada tahap ini adalah karena inilah kehendak dan karuniaNya. “Apapun niat baik yang kita lakukan demi kebahagiaan orang lain, niscaya Tuhan akan selalu merestuinya.”

Everyone Judge Me



Ada masa dimana semuanya terasa indah. Meskipun kita tahu bahwa masa tersebut bersifat fana. Tapi akankah kita melewatkan suasana itu? Melihat orang-orang yang gue sayangi tersenyum itu adalah kenikmatan duniawi yang ingin selalu terulang dan berharap abadi. Tidak ada guratan kecemasan ataupun tekanan dalam wajah mereka. Setiap manusia memiliki cara masing-masing untuk  menunjukan kepada dunia bahwa dirinya berharga, dirinya ada untuk sesuatu yang indah, dirinya berguna untuk hal yang membuat dirinya diakui keberadaannya dan tujuan dirinya hidup untuk apa. Demikian juga dengan alasan untuk hidup. Setiap manusia memiliki jawaban yang beragam tentang alasan dirinya hidup. Alasan gue hidup itu sederhana sampai saat ini, gue hidup karena gue harus menjadi kebanggan orangtua gue. Mungkin menurut mereka pilihan yang gue ambil itulah sumber kebanggaan dan kebahagiaan mereka. Namun ketika gue telah dipilihkan oleh Tuhan terhadap satu pilihan, banyak sekali opini publik yang bermunculan.
Jujur, semua yang gue dapatkan sekarang begitu sulit dalam memperjuangkannya. Ditambah rasa ragu yang datang untuk kesekian kalinya. Apalagi keraguan yang gue rasakan sekarang begitu kuat. Gue nggak yakin dengan pilihan gue kali ini. Beberapa orang yang dekat terasa menjauh perlahan dan pergi. Entah apa sebabnya. Tidak sedikit orang yang mencibir bahkan mentertawakan, entah karena gue lucu atau benar-benar konyol. Cacian itu muncul seolah peramal dan penentu masa depan gue. Tidak adakah pekerjaan lain selain mengurusi hidup gue? Mungkinkan kalian menganggap bahwa angan gue terlalu tinggi? Apakah mimpi itu tabu bagi orang dalam kondisi seperti gue? Tak bolehkah gue bermimpi dan hendak menggapai mimpi tersebut? Bukankah gue tidak membebani kalian yang selalu mencaci dan merendahkan kondisi gue? Kalian berkomentar seperti kalian yang mengurus dan membesarkan gue, kalian yang menjaga dan melindungi gue, dan kalian yang membantu gue dan orangtua gue.
Ironis sekali, beberapa diantara kalian adalah sosok yang disegani. Kalian berpendidikan tinggi dan memiliki gelar keagamaan. Apakah kalian tiak percaya dengan kekuasaan Tuhan? Apakah kalian lupa dengan cara menghargai orang lain. Orang-orang yang mengerti, mereka justru bangga dengan pencapaian seseorang yang memiliki berbagai keterbatasan seperti gue. Walaupun mereka bukan orang-orang yang berpendidikan tinggi, tapi mereka sangat tahu bagaimana caranya menghargai orang lain.
Gue memiliki keterbatasan dan itu adalah alasan mengapa saya tidak mau menyerah dengan keadaan. Gue tak mau menyia-nyiakan orang-orang yang membantu dan mendukung gue. Gue tak mau perjuangan dan pengorbanan mereka tidak ada gunanya. Apakah mereka sakit hati dengan ocehan kalian? SANGAT, mereka lebih sakit hati dibanding gue. Dan mereka sempat berfikir bahwa kesuksesan hanya boleh diraih oleh orang-orang yang memiliki segalanya seperti kalian. Bukankah kalian kejam? Kalian bertindak seenaknya, padahal kalian bukan siapa-siapa untuk gue dan untuk mereka yang membela gue..
Hidup memang selalu berdampingan. Kadang di atas dan kadang di bawah. Banyak orang yang memuji dan tidak sedikit pula orang yang mencibir. Biasanya orang yang mencibir adalah orang-orang yang tidak mampu menjadi seperti apa yang telah kita lakukan dan kita capai. Gue nggak peduli dengan semua pendapat orang lain yang hanya berani berkomentar tanpa dirinya mengerti apa yang dikatakannya. Yang gue tahu bahwa hidup itu Tuhan yang mengaturnya bukan kalian.
Gue ingin mereka yang mengikuti jejak gue tidak mengalami kesulitan dalam mencapai impiannya dan gue berguna untuk mereka yang membutuhkan bantuan gue.

Different



Ini mungkin saat dimana semuanya benar-benar berubah. Awalnya gue mengira bahwa ini akan mudah. Tapi ternyata semuanya sangat sulit. Jauh dari ekspektasi yang selama ini gue pikirkan, entah gue salah jalan atau belum mengetahui jalan mana yang sebenarnya harus gue lewati. Tak memiliki pegangan, tidak ada siapapun walau hanya sekedar untuk bertanya ataupun sandaran. Gue tahu, tantangan di depan yang amat luar biasa telah menanti dan sesegera mungkin akan membalut semua keterbatasan gue jika saya tak benar-benar mengerti tentang apa yang sesungguhnya sedang hadapi. Cacian akan sering gue dengar, begitupun pujian. Untaian doa disetiap sujud dan air mata gue menjadi sebuah sensasi tersendiri peneduh jiwa disaat keraguan ini melanda. Impian yang sedang gue perjuangkan, berusaha untuk mewujudkan apa yang tidak diyakini orang lain dalam keterbatasan. Gue tak pernah lupa bahkan selalu mengingatnya. Bagaimana sulitnya malaikat-malaikat gue mencari kebutuhan untuk membantu merealisasikan impian. Tekanan batin, itu pasti karena mereka bekerja ekstra ketika semua orang bekerja sesuai kesanggupannya. Kadang gue berpikir ingin berhenti, kadang gue berpikir bahwa gue egois, terlalu mementingkan keinginan sendiri tanpa peduli kekurangan yang begitu menggunung. Gue seperti menuntut malaikat-malaikat gue buat patuh terhadap gue.
Sepertinya gue benar-benar egois. Gue begitu yakin dengan angan gue tapi gue gak liat keterbatasan gue. Gue abaikan keluh kesah malaikat-malaikat gue. Penat yang mereka rasakan seolah wajar menurut gue. Tapi apa gue sejahat itu ? Sekarang ini, gue berjuang untuk kehidupan yang lebih layak. Gue meminta mereka untuk bersabar karena tak ingin gue melihat mereka sengsara esok hari. Gue ingin hidup mereka terjamin. Mimpi yang sekarang mereka kubur dalam-dalam akan bangkit esok hari dan perjuangan yang mereka lakukan sekarang akan menjadi kebanggaan esok hari.
Perasaan berdosa itu selalu berputar dibenak gue. Apa yang telah gue berikan kepada mereka? Mereka tak pernah menuntut apapun dari gue. Mereka hanya ingin gue bahagia tapi mereka kadang menyingkirkan keinginan mereka demi gue yang harus tetap berjuang. Kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala. Disaat orang lain rehat, mereka terus bekerja. Dan disaat orang lain terlelap mereka terus meminta. “Bersabarlah malaikat-malaikat baik gue. Perjuangan kita akan segera membuahkan hasil. Kita wujudkan mimpi-mimpi kita, kita buktikan bahwa apapun yang kita perjuangkan dan kita korbankan selama ini akan diganti dengan kesuksesan. Percayalah bahwa Allah tidak pernah tertidur dan selalu melindungi kita.

Kembali Menulis

Keinginan untuk menulis sudah lama tertanam dibenak gue, tapi karena keterbatasan kuota dan waktu memaksa gue buat mendem lebih lama lagi ungkapan hati gue. Padahal banyak banget hal-hal yang pengen gue utarakan. Gue tipe orang yang sering mencurahkan apa yang gue rasakan entah itu ngomong sendiri atau nyari orang yang mau dengerin kicauan gue. Kalo suatu hal gue pendem, malah jadi gedek ga jelas. Baru sekarang ini gue bisa membuka kembali blog gue yang ternyata udah menua tak terurus. Di sini gue mungkin nggak akan banyak memberikan motivasi untuk kalian karena gue bukan motivator, gue cuma ingin berbagi sepenggal pengalaman gue yang menurut gue berharga dan patut untuk dibagi ataupun curahan hati gue mungkin... Setidaknya kalian bisa mengambil pelajaaran dari tulisan gue berdasarkan cara kalian masing-masing. Thanks banget buat kalian yang mau menyempatkan waktu buat baca kicauan gue dan sorry kalo ga penting dan sorry juga kalo ada beberapa pihak yang merasa tersinggung karena sama sekali gue ga punya maksud lain selain meluapkan ketertaikan gue buat nulis.