Ada
masa dimana semuanya terasa indah. Meskipun kita tahu bahwa masa tersebut
bersifat fana. Tapi akankah kita melewatkan suasana itu? Melihat orang-orang
yang gue sayangi tersenyum itu adalah kenikmatan duniawi yang ingin selalu
terulang dan berharap abadi. Tidak ada guratan kecemasan ataupun tekanan dalam
wajah mereka. Setiap manusia memiliki cara masing-masing untuk menunjukan kepada dunia bahwa dirinya
berharga, dirinya ada untuk sesuatu yang indah, dirinya berguna untuk hal yang
membuat dirinya diakui keberadaannya dan tujuan dirinya hidup untuk apa.
Demikian juga dengan alasan untuk hidup. Setiap manusia memiliki jawaban yang
beragam tentang alasan dirinya hidup. Alasan gue hidup itu sederhana sampai saat ini, gue hidup karena gue harus menjadi kebanggan orangtua gue. Mungkin menurut mereka
pilihan yang gue ambil itulah sumber kebanggaan dan kebahagiaan mereka. Namun
ketika gue telah dipilihkan oleh Tuhan terhadap satu pilihan, banyak sekali
opini publik yang bermunculan.
Jujur,
semua yang gue dapatkan sekarang begitu sulit dalam memperjuangkannya.
Ditambah rasa ragu yang datang untuk kesekian kalinya. Apalagi keraguan yang
gue rasakan sekarang begitu kuat. Gue nggak yakin dengan pilihan gue kali ini.
Beberapa orang yang dekat terasa menjauh perlahan dan pergi. Entah apa
sebabnya. Tidak sedikit orang yang mencibir bahkan mentertawakan, entah karena
gue lucu atau benar-benar konyol. Cacian itu muncul seolah peramal dan penentu
masa depan gue. Tidak adakah pekerjaan lain selain mengurusi hidup gue? Mungkinkan
kalian menganggap bahwa angan gue terlalu tinggi? Apakah mimpi itu tabu bagi
orang dalam kondisi seperti gue? Tak bolehkah gue bermimpi dan hendak
menggapai mimpi tersebut? Bukankah gue tidak membebani kalian yang selalu
mencaci dan merendahkan kondisi gue? Kalian berkomentar seperti kalian yang
mengurus dan membesarkan gue, kalian yang menjaga dan melindungi gue, dan
kalian yang membantu gue dan orangtua gue.
Ironis
sekali, beberapa diantara kalian adalah sosok yang disegani. Kalian berpendidikan
tinggi dan memiliki gelar keagamaan. Apakah kalian tiak percaya dengan
kekuasaan Tuhan? Apakah kalian lupa dengan cara menghargai orang lain.
Orang-orang yang mengerti, mereka justru bangga dengan pencapaian seseorang
yang memiliki berbagai keterbatasan seperti gue. Walaupun mereka bukan
orang-orang yang berpendidikan tinggi, tapi mereka sangat tahu bagaimana
caranya menghargai orang lain.
Gue memiliki keterbatasan dan itu adalah alasan mengapa saya tidak mau menyerah
dengan keadaan. Gue tak mau menyia-nyiakan orang-orang yang membantu dan
mendukung gue. Gue tak mau perjuangan dan pengorbanan mereka tidak ada
gunanya. Apakah mereka sakit hati dengan ocehan kalian? SANGAT, mereka lebih
sakit hati dibanding gue. Dan mereka sempat berfikir bahwa kesuksesan hanya
boleh diraih oleh orang-orang yang memiliki segalanya seperti kalian. Bukankah
kalian kejam? Kalian bertindak seenaknya, padahal kalian bukan siapa-siapa
untuk gue dan untuk mereka yang membela gue..
Hidup
memang selalu berdampingan. Kadang di atas dan kadang di bawah. Banyak orang
yang memuji dan tidak sedikit pula orang yang mencibir. Biasanya orang yang
mencibir adalah orang-orang yang tidak mampu menjadi seperti apa yang telah
kita lakukan dan kita capai. Gue nggak peduli dengan semua pendapat orang lain
yang hanya berani berkomentar tanpa dirinya mengerti apa yang dikatakannya. Yang
gue tahu bahwa hidup itu Tuhan yang mengaturnya bukan kalian.
Gue ingin mereka yang mengikuti jejak gue tidak mengalami kesulitan dalam mencapai
impiannya dan gue berguna untuk mereka yang membutuhkan bantuan gue.