Selasa, 24 April 2018

Hobbyku Duniaku

Gue akan bercerita seputar hobby yang sangat gue cintai dan jika gue lagi berurusan dengan dia, gue bisa lupa segalanya. Dunia mewarnai, gue udah bergelut dengan dia sejak gue TK. Bayangin tcoy, gue dapet juara 2 lomba mewarnai tingkat desa dalam acara agustusan dong, betapa bahagianya gue saat itu dan cekikikanya sekarang kalo liat piagam penghargaannya. Tapi momen itu bukan hanya sebuah kemenangan menurut gue, melainkan pengalaman yang luar biasa hingga sekarang gue masih ingat prosesnya.
Let me explain a little bit...
Dimulai dari seorang Tiara kecil yang saat itu selalu berkhayal akan bentuk-bentuk awan dilangit dengan gumpalan-gumpalannya yang tergambar seperti gajah, mermaid, ombak, bunga and many more. Dari kecil gue emang tipikal orang yang bisa cepat hapal akan sesuatu jika digambarkan dalam bentuk visual ---tapi sekarang kemampuan itu berkurang seiring dengan bertambahnya usia---. Gue belum yakin kalo bakat seni gue itu turunan atau bukan karena setelah gue telusuri leluhur gue yang menggeluti bidang seni hanya beberapa doang dan yang gue tau cuma mbah gue “bapaknya nyokap”. Beliau dulu pekerja seni disela-sela profesinya sebagai guru tapi bukan gambar, musik lebih tepatnya. Aaah gue masih ingat gimana dia ngajarin gue lagu “nama-nama hari” tiap gue bertandang ke rumahnya. *btw lagu itu adalah lagu pertama yang gue hafal ketika gue kecil, dan itu dari mbah gue. Selebihnya gue diajarin di TK. ---dan anehnya gue gak bisa nyanyi sekarang *kecuali ditempat karauke---
Selain mbah gue yang suka banget ngajarin gue nyanyi, bokap juga selalu gambarin sesuatu di buku tulis sebelum gue tidur. Ketika malam tiba, gue akan tidur jika bokap bacakan cerita buat gue. Dulu gue gak punya buku-buku dongeng yang ada gambarnya seperti sekarang. Jadi ketika bokap cerita tentang sebuah dongeng, beliau akan menggambarkannya di dalam buku. For example, seinget gue beliau pernah cerita tentang kancil dan buaya dan disaat bersamaan beliau pasti gambarin tuh sosok si kancil dan buaya di buku tulis dengan peralatan seadanya. Dari situ gue mulai berkhayal lagi tentang sosok sang kanci dan buaya.
Dari latar belakang tersebut *aduh efek skripsian... akhirnya ketika sekolah, pelajaran yang paling gue sukai dari semuanya adalah kesenian. Ada yang lain ga Ti? Ada, olahraga. Ada yang lainnya lagi Ti? Ada, pelajaran kosong dan dipulangin yeay....
Sekarang gue bakal cerita kenapa moment kemenangan gue saat lomba mewarnai di agustusan begitu bermakna buat gue. Jadi gini, gue gak pernah expect kalo gue bisa ikutan lomba mewarnai karena gue sama sekali nggak punya pensil warna saat itu. ---Jujur sampe gue tamat SMP gue gak pernah beli yang namanya pensil warna lah kok bisa?--- Pertama harga pensil warna mahal menurut nyokap gue, dan yang kedua gue ga punya uang buat belinya. Lah terus bisa menang juara 2 lomba mewarnai pake apa dong? Gak beli pensil warna bukan perati gak punya kan? Jadi kira-kira seminggu sebelum perlombaan nyokap beres-beres berkas di rumah mbah, --lagi-lagi si mbah berjasa buat dunia kanak-kanak gue---. Dan gak sengaja nemu satu set pensil warna, lupa merknya apa dan saat itu, merk pensil warna yang nyokap temuin sama sekali gak terkenal. Sungguh karena diumur gue yang masih lima tahu gue udah tau kalo temen-temen sekelas gue udah banyak yang pake faber-castle *bukan promosi yaa. Yaa banter-banter joyko lah kalo ga punya faber-castle. Dan pensil warna yang nyokap gue temuin sampulnya warna putih dan seinget gue ada gambar boneka cewek gitu.
Nah dari situ akhirnya gue diikut sertakan lomba oleh ibu guru TK yang baik hati. Tempatnya di bale gitu, tapi bukan bale desa yaa. Peserta lesehan di dalem ruangan sedangkan emak-emaknya pada merhatiin di luar jendela. Sesekali boleh liat untuk memastikan anaknya baik-baik aja, bukan untuk membantu proses mewarnai. Kata-kata nyokap yang sampai saat ini gue inget adalah “hati-hati mewarnainya satu arah, jangan berlawanan arah biar rapih, jangan sampai keluar garis” selain itu “jangan buru-buru, fokus aja sama gambarnya jangan sama orang  lain” karena waktu itu temen-temen gue cepet selesainya dan untuk masalah warnanya mereka lebih bold dibanding gambar punya gue ---secara dari merk pensil warna kan beda---. Gue juga masih inget kalo gue termasuk anak terakhir yang bisa menyelesaikan gambar, gue anak ke dua apa ketiga terakhir gitu kalo gak salah. Pokoknya nyokap beresin barang-barang gue dang bilang “hasilnya bagus”. Gue pulang dan gak pernah berharap untuk juara karena ketika gue ikut lomba itu yang terlintas dipikiran gue adalah gue bisa mewarnai gambar dengan pensil warna punya sendiri.
Dan malamnya diumumin tuh siapa yang jadi juara lomba mewarnai tingkat TK ama panitia agustusan. Gue dateng ama nyokap ditemenin Ua gue *suaminya kakak bokap. Menyedihkannya adalah gue duduk disebelah bapak-bapak yang lagi ngerokok dan gue bengek berkepanjangan. Dipanggilah nama gue ke depan, seneng dong gue tapi gue gak maju ke depan waktu itu, malu dan gak kuat jalan dingin dan lemes gegara rokok itu *makannya sekarang gue gak suka banget asep rokok dan punya alergi dingin walaupun sedikit sih, alhamdulillah... Waktu itu yang ngambil hadiah Ua gue. Seneng dong gue. Dan itulah pensil warna kedua yang gue dapatkan tanpa gue beli. Kalo ada yang nanya merknya apa, of course bukan fabel-castle soalnya ketika gue coba buat ngewarnain hasil warna gambarnya lebih pucat dibanding pensil warna yang gue dapet dari rumah mbah.
Saat itu gue gak pernah ngerti tentang sebuah proses yang gue lalui sehingga gue mendapatkan hasil yang memuaskan dan juga mendapatkan penghargaan dari usaha yang telah gue lakukan. Tapi sekarang, ketika gue flash back ke masa itu, gue menemukan banyak pelajaran dari sana. Bukan sekedar karena menggambar menjadi hal yang paling gue cintai sampai sekarang, melainkan pelajaran yang lebih berarti dari itu. Bahwa sebuah perjuangan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh maka akan mendapatkan hasil yang sebanding. Apa yang nyokap gue katakan ketika gue lomba waktu itu secara tidak sadar *karena gue masih kecil--- tetapi memberikan suntikan yang luar biasa pada diri gue dan gue yakin itulah ikatan batin seorang ibu dan anak yang tanpa mengenal batas usia. Saat itu gue nggak tau dan sampai sekarangpun gue nggak tau apakah pujian yang nyokap bilang atas hasil gambar yang telah gue kerjakan memang bagus atau untuk menghibur gue karena keterbatasan alat gambar yang gue punya, yang jelas beliau nggak pernah bilang “kamu akan juara atau kamu pasti juara”. Tapi yang gue tau adalah nyokap seneng liat gue gambar dan dia bangga punya anak yang bisa menwarnai *saat itu yaaa diusia gue yang baru lima tahun... kalo untuk juara, penghargaan atau semacamnya itu bonus.
PS: tentang ingatan gue yang seolah didramatisir, serius itu bukan settingan apalagi gimic karena gue bukan aktris. Kenapa kejadiannya seolah baru kemaren padahal sekitar 17 tahun yang lalu itu karena moment itu benar-benar membekas di ingatan gue. Gue yakin diantara kalian pasti punya kenangan masa kecil yang gak bisa dilupain sampai sekarang dan ketika loe menceritakannya kembali, dan ajaibnya loe bakal hapal secara garis besarnya seolah kejadiannya baru terjadi kemaren.
Ini mah bukan little bit tapi little looooooong....
Itu baru awal mula gue bisa gambar dan mulai suka mengambar, belom bisa gambar orang apalagi gambar fashion...

Nanti dilanjut yaa butuh energi yang banyak buat ngetik, dan sekarang gue laper, pegel juga bye...