Gue akan bercerita seputar hobby yang sangat gue cintai dan jika
gue lagi berurusan dengan dia, gue bisa lupa segalanya. Dunia mewarnai, gue
udah bergelut dengan dia sejak gue TK. Bayangin tcoy, gue dapet juara 2 lomba
mewarnai tingkat desa dalam acara agustusan dong, betapa bahagianya gue saat
itu dan cekikikanya sekarang kalo liat piagam penghargaannya. Tapi momen itu
bukan hanya sebuah kemenangan menurut gue, melainkan pengalaman yang luar biasa
hingga sekarang gue masih ingat prosesnya.
Let me explain a little bit...
Dimulai dari seorang Tiara kecil yang saat itu selalu berkhayal
akan bentuk-bentuk awan dilangit dengan gumpalan-gumpalannya yang tergambar
seperti gajah, mermaid, ombak, bunga and many more. Dari kecil gue emang
tipikal orang yang bisa cepat hapal akan sesuatu jika digambarkan dalam bentuk
visual ---tapi sekarang kemampuan itu berkurang seiring dengan bertambahnya
usia---. Gue belum yakin kalo bakat seni gue itu turunan atau bukan karena
setelah gue telusuri leluhur gue yang menggeluti bidang seni hanya beberapa
doang dan yang gue tau cuma mbah gue “bapaknya nyokap”. Beliau dulu pekerja
seni disela-sela profesinya sebagai guru tapi bukan gambar, musik lebih
tepatnya. Aaah gue masih ingat gimana dia ngajarin gue lagu “nama-nama hari”
tiap gue bertandang ke rumahnya. *btw lagu itu adalah lagu pertama yang gue
hafal ketika gue kecil, dan itu dari mbah gue. Selebihnya gue diajarin di TK.
---dan anehnya gue gak bisa nyanyi sekarang *kecuali ditempat karauke---
Selain mbah gue yang suka banget ngajarin gue nyanyi, bokap juga
selalu gambarin sesuatu di buku tulis sebelum gue tidur. Ketika malam tiba, gue
akan tidur jika bokap bacakan cerita buat gue. Dulu gue gak punya buku-buku
dongeng yang ada gambarnya seperti sekarang. Jadi ketika bokap cerita tentang
sebuah dongeng, beliau akan menggambarkannya di dalam buku. For example,
seinget gue beliau pernah cerita tentang kancil dan buaya dan disaat bersamaan
beliau pasti gambarin tuh sosok si kancil dan buaya di buku tulis dengan
peralatan seadanya. Dari situ gue mulai berkhayal lagi tentang sosok sang kanci
dan buaya.
Dari latar belakang tersebut *aduh efek skripsian... akhirnya
ketika sekolah, pelajaran yang paling gue sukai dari semuanya adalah kesenian.
Ada yang lain ga Ti? Ada, olahraga. Ada yang lainnya lagi Ti? Ada, pelajaran
kosong dan dipulangin yeay....
Sekarang gue bakal cerita kenapa moment kemenangan gue saat lomba
mewarnai di agustusan begitu bermakna buat gue. Jadi gini, gue gak pernah
expect kalo gue bisa ikutan lomba mewarnai karena gue sama sekali nggak punya
pensil warna saat itu. ---Jujur sampe gue tamat SMP gue gak pernah beli yang
namanya pensil warna lah kok bisa?--- Pertama harga pensil warna mahal menurut
nyokap gue, dan yang kedua gue ga punya uang buat belinya. Lah terus bisa menang
juara 2 lomba mewarnai pake apa dong? Gak beli pensil warna bukan perati gak
punya kan? Jadi kira-kira seminggu sebelum perlombaan nyokap beres-beres berkas
di rumah mbah, --lagi-lagi si mbah berjasa buat dunia kanak-kanak gue---. Dan
gak sengaja nemu satu set pensil warna, lupa merknya apa dan saat itu, merk
pensil warna yang nyokap temuin sama sekali gak terkenal. Sungguh karena diumur
gue yang masih lima tahu gue udah tau kalo temen-temen sekelas gue udah banyak
yang pake faber-castle *bukan promosi yaa. Yaa banter-banter joyko lah kalo ga
punya faber-castle. Dan pensil warna yang nyokap gue temuin sampulnya warna
putih dan seinget gue ada gambar boneka cewek gitu.
Nah dari situ akhirnya gue diikut sertakan lomba oleh ibu guru TK
yang baik hati. Tempatnya di bale gitu, tapi bukan bale desa yaa. Peserta
lesehan di dalem ruangan sedangkan emak-emaknya pada merhatiin di luar jendela.
Sesekali boleh liat untuk memastikan anaknya baik-baik aja, bukan untuk
membantu proses mewarnai. Kata-kata nyokap yang sampai saat ini gue inget
adalah “hati-hati mewarnainya satu arah, jangan berlawanan arah biar rapih,
jangan sampai keluar garis” selain itu “jangan buru-buru, fokus aja sama
gambarnya jangan sama orang lain” karena
waktu itu temen-temen gue cepet selesainya dan untuk masalah warnanya mereka
lebih bold dibanding gambar punya gue ---secara dari merk pensil warna kan beda---.
Gue juga masih inget kalo gue termasuk anak terakhir yang bisa menyelesaikan
gambar, gue anak ke dua apa ketiga terakhir gitu kalo gak salah. Pokoknya
nyokap beresin barang-barang gue dang bilang “hasilnya bagus”. Gue pulang dan
gak pernah berharap untuk juara karena ketika gue ikut lomba itu yang terlintas
dipikiran gue adalah gue bisa mewarnai gambar dengan pensil warna punya
sendiri.
Dan malamnya diumumin tuh siapa yang jadi juara lomba mewarnai
tingkat TK ama panitia agustusan. Gue dateng ama nyokap ditemenin Ua gue *suaminya
kakak bokap. Menyedihkannya adalah gue duduk disebelah bapak-bapak yang lagi
ngerokok dan gue bengek berkepanjangan. Dipanggilah nama gue ke depan, seneng
dong gue tapi gue gak maju ke depan waktu itu, malu dan gak kuat jalan dingin
dan lemes gegara rokok itu *makannya sekarang gue gak suka banget asep rokok
dan punya alergi dingin walaupun sedikit sih, alhamdulillah... Waktu itu yang
ngambil hadiah Ua gue. Seneng dong gue. Dan itulah pensil warna kedua yang gue
dapatkan tanpa gue beli. Kalo ada yang nanya merknya apa, of course bukan
fabel-castle soalnya ketika gue coba buat ngewarnain hasil warna gambarnya
lebih pucat dibanding pensil warna yang gue dapet dari rumah mbah.
Saat itu gue gak pernah ngerti tentang sebuah proses yang gue lalui
sehingga gue mendapatkan hasil yang memuaskan dan juga mendapatkan penghargaan
dari usaha yang telah gue lakukan. Tapi sekarang, ketika gue flash back ke masa
itu, gue menemukan banyak pelajaran dari sana. Bukan sekedar karena menggambar
menjadi hal yang paling gue cintai sampai sekarang, melainkan pelajaran yang
lebih berarti dari itu. Bahwa sebuah perjuangan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh
maka akan mendapatkan hasil yang sebanding. Apa yang nyokap gue katakan ketika
gue lomba waktu itu secara tidak sadar *karena gue masih kecil--- tetapi
memberikan suntikan yang luar biasa pada diri gue dan gue yakin itulah ikatan
batin seorang ibu dan anak yang tanpa mengenal batas usia. Saat itu gue nggak
tau dan sampai sekarangpun gue nggak tau apakah pujian yang nyokap bilang atas
hasil gambar yang telah gue kerjakan memang bagus atau untuk menghibur gue
karena keterbatasan alat gambar yang gue punya, yang jelas beliau nggak pernah
bilang “kamu akan juara atau kamu pasti juara”. Tapi yang gue tau adalah nyokap
seneng liat gue gambar dan dia bangga punya anak yang bisa menwarnai *saat itu
yaaa diusia gue yang baru lima tahun... kalo untuk juara, penghargaan atau
semacamnya itu bonus.
PS: tentang ingatan gue yang seolah didramatisir, serius itu bukan
settingan apalagi gimic karena gue bukan aktris. Kenapa kejadiannya seolah baru
kemaren padahal sekitar 17 tahun yang lalu itu karena moment itu benar-benar
membekas di ingatan gue. Gue yakin diantara kalian pasti punya kenangan masa
kecil yang gak bisa dilupain sampai sekarang dan ketika loe menceritakannya
kembali, dan ajaibnya loe bakal hapal secara garis besarnya seolah kejadiannya
baru terjadi kemaren.
Ini mah bukan little bit tapi little looooooong....
Itu baru awal mula gue bisa gambar dan mulai suka mengambar, belom
bisa gambar orang apalagi gambar fashion...
Nanti dilanjut yaa butuh energi yang banyak buat ngetik, dan
sekarang gue laper, pegel juga bye...