Sekarang gue lagi ditemenin sama secangkir kopi instan dan lagu
‘surat cinta untuk starla’ entah kenapa gue lagi kasmaran sama ini lagu, apalagi
pas dinyanyiin pengamen yang di bis umum menuju Bandung minggu kemaren. Bahkan
gue ngerasa kalo lagu itu diciptain emang buat gue -skipp aja soal ini, gak
penting-. Karena gue gak bakal cerita tentang lagu ataupun kopi yang setia
temenin gue. Kita akan berbicara tentang topik yang lebih dewasa secara
pemikiran –biar kek orang-orang penting gitu-. Tulisan ini tidak bermaksud
untuk mengubah siapapun atau menginspirasi siapapun –sungguh, gue bukan
motivator- karena tulisan ini diposting cuma bertujuan untuk menyalurkan
kebiasaan gue yang suka bercerita receh pada sahabat-sahabat gue –diluar konteks
penting ataupun nggak cerita gue karena gue tipe orang yang gak bisa simpen apa
yang gue rasain, dan ajaibnya, gue suka banget cerita secara detail termasuk
tanggal dan waktu kejadian- sorry banget buat kalian yang ngerasa
keganggu dengan kebiasaan aneh gue. Tapi berhubung saat ini kuota internet gue
limit dan kalo gue chat sahabat gue malah ganggu kerjaan mereka lebih
baik gue salurkan kebiasaan gue di blog kesayangan gue yang sebenernya gak
menarik ini.
Well, tadi sahabat
gue asyik banget cerita tentang seseorang –entah itu teman baru atau gebetan
gue masih belum yakin- yang jelas doi lagi seneng akhir-akhir ini. Gue juga antusias
sama ceritanya, bukan karena orang yang dia ceritain tapi topik yang dia sama
temennya obrolin. Dari sekian menit –gue lupa dia ngomong berapa jam- sahabat
gue cerita, gue bisa ngambil inti dari apa yang mereka bicarakan, ‘tentang
tujuan hidup’, itu yang bisa gue simpulkan. Terus gue tetiba kepikiran juga
tentang tujuan hidup gue –maklum gue terkadang mikirin hal yang gak penting dan
panasan orangnya, kek sekarang nih, gak penting kan?-. Hmm... let’s back to topick. Ya tujuan hidup
yang sejak Tiara kecil telah bergulung menjadi mimpi besar yang harus segera
terealisasi –pokonya harus-. Tujuan hidup yang mungkin oleh sebagian orang
dianggap mustahil tapi tidak buat gue karena menurut pendapat gue
ketidakmungkinan terjadi hanya kepada orang-orang yang pesimis memandang suatu
hal.
Gue amat bersyukur karena dari SMP gue udah tau inginnya apa,
maunya gimana dan disaat SMA gue udah mulai membuat alur tentang apa yang
hendak gue capai disaat temen-temen gue masih bingung dengan apa yang mereka
mau. Dan gue sedang mengatur alur menuju tujuan hidup gue dan gue juga sangat bersyukur
karena Tuhan selalu kasih jalan buat gue. Walau terkadang jalannya sulit tapi
bukan berati tidak ada jalan atau gue harus berhenti untuk meyerah kan? Karena
seperti kata pepatah, ‘Banyak Jalan Menuju Roma”. Gue tinggal melangkah
mengikuti alur yang telah gue buat dan menggapai tujuan gue.
Tapi ketika gue merasa bahwa gue semakin dekat dengan tujuan hidup
gue, ujian mulai datang bergaintian. Di saat gue kuliah, semakin gue dewasa
secara usia, ternyata semakin banyak hal baru yang belum gue pahami sama
sekali. Di sini gue baru berpikir bahwa gue hanya sebagian kecil dari miliaran
orang dan pengetahuan yang tersebar di semesta. Terlebih ketika gue semakin
paham tentang keinginan gue dan melihat bahkan bertemu dengan orang-orang yang
memiliki mimpi yang sama kek gue atau bahkan telah meraik mimpinya. Gue makin merasa
bahwa gue baru melangkah perlahan menusuri alur yang telah gue buat sedangkan
mereka, mereka berlari bahkan jatuh bangun degan ujian bahkan kegagalan. Dan gue tetiba tersadar bahwa gue belum
sekeren mereka dalam menapaki hidup. Tapi gue gak harus berhenti dan kembali,
–gue akan seperti dia suatu saat nanti-.
Ketika gue semakin mengerti tentang apa yang gue mau, ternyata gue
belum memberi perhaian lebih pada sekeliling gue. Entah tentang keraguan yang
tetiba bikin gue binggung -benarkah
jalan yang gue pilih- atau dunia sekitar gue yang mencoba bicara ke gue
kalo kehidupan tidak seindah yang gue bayangin ketika gue mau tidur atau dalam
mimpi gue. Ya... gue lupa jika semesta tidak membiarkan seseorang selalu
bahagia, pun sebaliknaya. Gue lupa bahwa ketika gue memilih sesuatu pasti ada
hal lain yang harus gue korbankan dan gue juga lupa kalo hidup bukan hanya
sekedar baik dan buruk.
Itu adalah hal yang selalu gue pikirkan sebelum gue tidur dan
bahkan bisa bikin gue terjaga sampe pagi. Gue paham tentang konsep baik dan
buruk. Gue tahu bahwa kebenaran itu sifatnya relatif dalam konteks manusia, pun
juga tentang hal yang salah. Tapi ilmu gue masih dangkal dan terlalu naif jika
gue bilang kalo gue adalah orang yang baik. Gue belum menyapa bagian tengah
dari baik dan buruk. Gue lupa atau mungkin gue belum tau kalo diantara keduanya
ada sifat netral. Sifat yang gue sendiri bingung dalam menaknai dan apakah gue berada
dalam kondisi itu sekarang.
Untuk mencapai sebuah kesuksesan diperlukan kerja keras dan
pengorbanan. Rasanya itu bukan hanya sekedar kalimat klasik yang diucapkan oleh
orang-orang sukses di luar sana. Karena sedikit demi sedikit gue mulai menapaki
kalimat itu dan gue mulai mengerti. Gue mulai memaknai bahwa keluhan gue
bukanlah hal yang paling melelahkan di dunia, atau cacian gue terhadap keadaan
gue tidak sebanding dengan jatuh bangunnya para survivor di luar sana.
Lalu gue harus gimana?
Bukankah gue tinggal mengikuti alur yang telah gue bangun sejak
dulu?
Ternyata dalam alur yang gue buat, gue tidak memperhitungkan
kemungkinan yang akan terjadi di tengah jalan, gue belum membangun tempat
peristirahatan jika bekal gue habis atau gue lelah, gue belum membangun tempat
dimana gue harus berjalan atau berlari atau bahkan berpikir tentang apa lagi
yang harus gue persiapkan untuk perjalanan gue selanjutnya menuju tujuan hidup
yang telah nampak dari kejauhan. Sekarang gue paham bahwa gue tidak ada dalam kebaikan
ataupun keburukan. Gue dalam sifat keduanya. Sifat netral atau bahkan semu.
Terus lo mau ngapain?
Oke, gue akan beristirahat sejenak diperjalanan gue, tapi bukan
untuk berhenti apalagi kembali dan menyerah. Gue hanya butuh berjalan untuk
mengisi tenaga dan mengatur strategi untuk kembali berlari. Kalo cape istirahat
lagi dan jangan lupa berlari lagi. Gue harus memperbaiki alur hidup gue untuk
semakin meyakinkan gue bahwa gue akan berada di jalan yang benar menuju apa
yang gue mau. Karena gue adalah penulis untuk ceria hidup gue sendiri dan yang
akan mementukan plot mana yang harus datar, melow atau bahkan dramatis sekali
pun hingga akhirnya happy ending.
Sebenernya gue masih ingin berbicara panjang lebar tentang cerita absurd
gue, tapi gue juga harus melirik tugas kuliah gue yang dalam waiting list.
Gue –mau gak mau- harus begadang lagi buat mereka –hmm begadang bukan cuma
milik bang Haji ternyata-.