Sabtu, 01 April 2017

Banyak Jalan Menuju Roma

Sekarang gue lagi ditemenin sama secangkir kopi instan dan lagu ‘surat cinta untuk starla’ entah kenapa gue lagi kasmaran sama ini lagu, apalagi pas dinyanyiin pengamen yang di bis umum menuju Bandung minggu kemaren. Bahkan gue ngerasa kalo lagu itu diciptain emang buat gue -skipp aja soal ini, gak penting-. Karena gue gak bakal cerita tentang lagu ataupun kopi yang setia temenin gue. Kita akan berbicara tentang topik yang lebih dewasa secara pemikiran –biar kek orang-orang penting gitu-. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengubah siapapun atau menginspirasi siapapun –sungguh, gue bukan motivator- karena tulisan ini diposting cuma bertujuan untuk menyalurkan kebiasaan gue yang suka bercerita receh pada sahabat-sahabat gue –diluar konteks penting ataupun nggak cerita gue karena gue tipe orang yang gak bisa simpen apa yang gue rasain, dan ajaibnya, gue suka banget cerita secara detail termasuk tanggal dan waktu kejadian- sorry banget buat kalian yang ngerasa keganggu dengan kebiasaan aneh gue. Tapi berhubung saat ini kuota internet gue limit dan kalo gue chat sahabat gue malah ganggu kerjaan mereka lebih baik gue salurkan kebiasaan gue di blog kesayangan gue yang sebenernya gak menarik ini.
Well, tadi sahabat gue asyik banget cerita tentang seseorang –entah itu teman baru atau gebetan gue masih belum yakin- yang jelas doi lagi seneng akhir-akhir ini. Gue juga antusias sama ceritanya, bukan karena orang yang dia ceritain tapi topik yang dia sama temennya obrolin. Dari sekian menit –gue lupa dia ngomong berapa jam- sahabat gue cerita, gue bisa ngambil inti dari apa yang mereka bicarakan, ‘tentang tujuan hidup’, itu yang bisa gue simpulkan. Terus gue tetiba kepikiran juga tentang tujuan hidup gue –maklum gue terkadang mikirin hal yang gak penting dan panasan orangnya, kek sekarang nih, gak penting kan?-.  Hmm... let’s back to topick. Ya tujuan hidup yang sejak Tiara kecil telah bergulung menjadi mimpi besar yang harus segera terealisasi –pokonya harus-. Tujuan hidup yang mungkin oleh sebagian orang dianggap mustahil tapi tidak buat gue karena menurut pendapat gue ketidakmungkinan terjadi hanya kepada orang-orang yang pesimis memandang suatu hal.
Gue amat bersyukur karena dari SMP gue udah tau inginnya apa, maunya gimana dan disaat SMA gue udah mulai membuat alur tentang apa yang hendak gue capai disaat temen-temen gue masih bingung dengan apa yang mereka mau. Dan gue sedang mengatur alur menuju tujuan hidup gue dan gue juga sangat bersyukur karena Tuhan selalu kasih jalan buat gue. Walau terkadang jalannya sulit tapi bukan berati tidak ada jalan atau gue harus berhenti untuk meyerah kan? Karena seperti kata pepatah, ‘Banyak Jalan Menuju Roma”. Gue tinggal melangkah mengikuti alur yang telah gue buat dan menggapai tujuan gue.
Tapi ketika gue merasa bahwa gue semakin dekat dengan tujuan hidup gue, ujian mulai datang bergaintian. Di saat gue kuliah, semakin gue dewasa secara usia, ternyata semakin banyak hal baru yang belum gue pahami sama sekali. Di sini gue baru berpikir bahwa gue hanya sebagian kecil dari miliaran orang dan pengetahuan yang tersebar di semesta. Terlebih ketika gue semakin paham tentang keinginan gue dan melihat bahkan bertemu dengan orang-orang yang memiliki mimpi yang sama kek gue atau bahkan telah meraik mimpinya. Gue makin merasa bahwa gue baru melangkah perlahan menusuri alur yang telah gue buat sedangkan mereka, mereka berlari bahkan jatuh bangun degan ujian bahkan kegagalan.  Dan gue tetiba tersadar bahwa gue belum sekeren mereka dalam menapaki hidup. Tapi gue gak harus berhenti dan kembali, –gue akan seperti dia suatu saat nanti-.
Ketika gue semakin mengerti tentang apa yang gue mau, ternyata gue belum memberi perhaian lebih pada sekeliling gue. Entah tentang keraguan yang tetiba bikin gue binggung -benarkah  jalan yang gue pilih- atau dunia sekitar gue yang mencoba bicara ke gue kalo kehidupan tidak seindah yang gue bayangin ketika gue mau tidur atau dalam mimpi gue. Ya... gue lupa jika semesta tidak membiarkan seseorang selalu bahagia, pun sebaliknaya. Gue lupa bahwa ketika gue memilih sesuatu pasti ada hal lain yang harus gue korbankan dan gue juga lupa kalo hidup bukan hanya sekedar baik dan buruk.
Itu adalah hal yang selalu gue pikirkan sebelum gue tidur dan bahkan bisa bikin gue terjaga sampe pagi. Gue paham tentang konsep baik dan buruk. Gue tahu bahwa kebenaran itu sifatnya relatif dalam konteks manusia, pun juga tentang hal yang salah. Tapi ilmu gue masih dangkal dan terlalu naif jika gue bilang kalo gue adalah orang yang baik. Gue belum menyapa bagian tengah dari baik dan buruk. Gue lupa atau mungkin gue belum tau kalo diantara keduanya ada sifat netral. Sifat yang gue sendiri bingung dalam menaknai dan apakah gue berada dalam kondisi itu sekarang.
Untuk mencapai sebuah kesuksesan diperlukan kerja keras dan pengorbanan. Rasanya itu bukan hanya sekedar kalimat klasik yang diucapkan oleh orang-orang sukses di luar sana. Karena sedikit demi sedikit gue mulai menapaki kalimat itu dan gue mulai mengerti. Gue mulai memaknai bahwa keluhan gue bukanlah hal yang paling melelahkan di dunia, atau cacian gue terhadap keadaan gue tidak sebanding dengan jatuh bangunnya para survivor di luar sana.
Lalu gue harus gimana?
Bukankah gue tinggal mengikuti alur yang telah gue bangun sejak dulu?
Ternyata dalam alur yang gue buat, gue tidak memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi di tengah jalan, gue belum membangun tempat peristirahatan jika bekal gue habis atau gue lelah, gue belum membangun tempat dimana gue harus berjalan atau berlari atau bahkan berpikir tentang apa lagi yang harus gue persiapkan untuk perjalanan gue selanjutnya menuju tujuan hidup yang telah nampak dari kejauhan. Sekarang gue paham bahwa gue tidak ada dalam kebaikan ataupun keburukan. Gue dalam sifat keduanya. Sifat netral atau bahkan semu.
Terus lo mau ngapain?
Oke, gue akan beristirahat sejenak diperjalanan gue, tapi bukan untuk berhenti apalagi kembali dan menyerah. Gue hanya butuh berjalan untuk mengisi tenaga dan mengatur strategi untuk kembali berlari. Kalo cape istirahat lagi dan jangan lupa berlari lagi. Gue harus memperbaiki alur hidup gue untuk semakin meyakinkan gue bahwa gue akan berada di jalan yang benar menuju apa yang gue mau. Karena gue adalah penulis untuk ceria hidup gue sendiri dan yang akan mementukan plot mana yang harus datar, melow atau bahkan dramatis sekali pun hingga akhirnya happy ending.

Sebenernya gue masih ingin berbicara panjang lebar tentang cerita absurd gue, tapi gue juga harus melirik tugas kuliah gue yang dalam waiting list. Gue –mau gak mau- harus begadang lagi buat mereka –hmm begadang bukan cuma milik bang Haji ternyata-.

Senin, 27 Maret 2017

Kesalahan Ada pada Diri Gue atau Mereka ???

Mulai dari mana yaa, hmm agak membingungkan...
Oke dimulai dari hal-hal yang menggelitik hati gue beberapa minggu ini. Jadi gini, suka ngerasa aneh bin ajaib bet sama orang-orang yang ga bisa lepas dari gadget, smartphone, tab, atau apalah namanya itu. Gue akui kalo era modern nan kekinian ini adalah masa dimana suatu hal yang katro ketika lo ga paham teknologi ‘kuper-jadul-dan gak keren’ mungkin itu sebagian istilah yang menggambarkan manusia yang gagap teknologi.
Gue gak menyanggah kalo teknologi ngebantu gue banget dalam aktivitas gue. Dan gue bisa share pengalaman gue di sini pun itu berkat teknologi yang pintar ini. Dan munafik bet kalo gue bilang “gue jarang maenin gadget gue” karena toh ketika gue gabut gue bergelut ama dia ape dia mati dan minta diidupin balik bahkan ketika proses pengisian batre “jangan tiru adegan ini, bahaya”. Tapi gue juga malah bingung sendiri, dan sekarang gue baru kepikiran dan semoga renungan ini menyadarkan gue, kenapa ga gue manfaatain kegabutan gue dengan hal-hal yang lebih berfaedah. –beresin kosan yang berantakan-ngerjain tugas kuliah yang dalam fase waiting list-atau olahraga gitu- “hmm, gue lupa kalo gue ga suka olahraga”, tapi pasti ada hal-hal yang lebih menyenangkan dibanding gadget ya kan???
Lucu nih, minggu kemaren gue baru kumpul ama temen-temen gue, ada bos yang tiba-tiba traktir gitu, sikaaattt itu rejeki halal buat anak kos macam gue. Oke, kita nyampe tempat makan dan pesen tuh menu. Dalam masa penantian –agak puitis yaa kalimatnya-, kita ngobrol cuma beberapa kaliamat itu pun jika penting. Ekspektasi gue sebelumnya, gue berharap ketika perkumpulan itu kita akan bercerita banyak tentang hal-hal yang bisa lebih mempererat pertemanan kita, tapi nyatanya... temen-temen gue sibuk dengan gadgetnya masing-masing dan kadang omongan-omongan gue pun dikacangin. Mungkin ini dalam gadgetnya lebih menarik dibandingan perkumpulan kita.
Agak sewot lah gue saat itu. Terus gue bilang “gak suka kalo lagi ngumpul tapi jiwanya gak disini” ditambahinlah ama temen depan gue yang ternyata risih juga ama kondisi begituan. Kata-katanya cukup klasik tapi masih relevan bet menurut gue, dia bilang gini “menjauhkan yang dekat dan -mendekatkan yang jauh- untuk bagian under line gue masih tanda tanya besar, maksud yang jauh itu siapa haha...
Jawaban temen-temen gue bikin gue kecewa, sumpah. Namun apalah daya, dari pada terjadi perdebatan, mending gue diem kan daripada dilanjutin. Tapi hati gue tetep gak terima tentang alangkah sibuknya mereka dengan dunianya masing-masing. Entah itu -mungkin bales chat yang masuk, video-an ala artis yang pingin terus eksis, atau cuma sekedar kepoin orang pliss itu hal yang gak perlu dilakuin saat kumpul bareng geng lo because there so many time in the other places buat ngelakuin hal nyebelin itu-
Rasanya gue pen teriak depan kupingnya...
“Helooo pacar lo ga perlu kan terima kabar lo tiap detik, dia ngerti kalo lo bilang lo lagi kumpul ama temen-temen lo.” Karena pacaran kan harus saling mengerti itu pendapat gue.
Atau...
“eh lo mau video-an mulu ampe lo jadi artis saat itu juga.”
Atau...
“sepenting itukah dia ampe lo ngerasa belum cukup lo kepion orang-orang atau gebetan lo di kosan gitu???
Gue masih toleransi ketika mereka maenin gadget buat bales chat orang karena mungkin itu penting, atau snapgram misal, karena itu urusan lo ama followers lo, tapi cukup sekali bisa kan ??? Bayangin mereka maen gadget ampe makanan dateng daaan tada kita mau makan pun harus ckrek dulu, kemudian upload ig dulu daaan hmm kapan makannya btw. Buat kalian yang ngerasa biasa aja dengan hal ini, gue minta maaf karena bikin kalian ga nyaman mungkin. Tapi gue merasa saat itu gue berada di suatu kondisi dimana gue adalah orang asing yang baru kenal manusia dan gue bingung harus berlaku kek gimana. Dan gue juga binggung harus gimana ketika hal tersebut terjadi seiap kali kita ngumpul??? Haruskah dihilangkan aja istilah ngumpul itu, mendingan jauh tapi tetap komunikasi cuma via sosial media??? Dalam kondisi jarak kita berdekatan loh ini yaa... Sedih gue, miris. Coba kalo kondisi serupa terjadi ketika lo lagi reunian ama sahabat lo yang kapan taun ketamu. Masih mau ketemuan??? Masih mau ngumpul bareng??? Dalam kondisi begitu??? Hmm... gue harus berfikir ribuan kali buat bilang iya.


Atau mungkin ketika jarak kita semakin jauh, temen-temen gue bakal sadar kalo bicara secara langsung itu lebih mengasyikan, kumpul itu adalah hal yang luar biasa. Entahlah, tapi gue amat merindukan masa ketika kita kumpul kita pure ngobrol dan NO GADGET.