Selasa, 24 September 2013

Cisoka dari Masa ke Masa

Sejarah desa Cisoka kecamatan Cikijing, kabupaten Majalengka, provinsi Jawa Barat.

A.          Asal Usul Desa Cisoka

Kilas balik zaman dahulu, menelusuri jejak para sesepuh yang mengetahui secara pasti tentang asal mula berdirinya desa Cisoka. Salah satunya adalah Bapak Miarsa. Beliau merupakan salah satu sesepuh yang masih hidup di Desa Cisoka. Walaupun ingatannya sedikit melemah karena faktor usianya, tetapi beliau masih banyak  mengingat dan tahu mengenai jaman dimana proses terjadinya desa Cisoka itu sendiri. Menurut penuturan beliau, dahulu ada sebuah tempat yang bernama Tarikolot. Lokasinya kurang lebih 600 M disebelah utara (desa Cisoka yang sekarang). Tidak diketahui tahun berapanya, menurut pernyataan beliau saat itu Tarikolot didatangi segerombol prajurit yang tidak diketahui dari mana asalnya. “Mungkin mereka dari tempat yang jauh dan sedang mengembara”, tuturnya. Menurut cerita pula, rombongan tersebut dipimpin oleh seorang pangeran bernama Arya Salingsingan. Sejak saat itu Pangeran Arya Salingsingan beserta prajuritnya menetap di tempat tersebut. Panjangnya cerita yang terurai dan menetapnya Pangeran Arya Salingsingan dan prajuritnya di Tarikolot, akhirnya tempat tersebut menjadi sebuah desa yaitu desa Tarikolot. Kemudian Pangeran Arya pun menikah dan dikaruniai keturunan. Sejak Pangeran Arya berkeluarga, ia beserta keluarga dan rakyatnya memutuskan untuk pindah ke sebelah selatan  desa Tarikolot yaitu sebuah tempat yang bernama Girang (sekarang Girang Mukti). Tidak diketahui apa penyebab pindahnya rombongan tersebut. Dan mereka pun menata kembali kehidupan meraka di sana sehingga Girang pun menjadi sebuah desa. Tahun demi tahun berlalu, desa Tarikolot pun berubah menjadi hutan belantara.
Seiring dengan terjadinya Desa Cisoka, di sana terdapat pemimpin atau sesepuh yang masyarakat Desa Cisoka menyebutnya sebagai Eyang. Eyang tersebut diantaranya :

1.      Eyang Angga Diprana
2.      Eayng Angga Dinata
3.      Eyang Jaya Reksa
4.      Eyang Sukadana
5.      Eyang Buyut Bulen

Panjangnya cerita, entah kapan waktu pastinya desa Cisoka berpindah lokasi pemerintahan yang tadinya di Girang bergeser ke sebelah utara Girang. Dan sekarang Girang merupakan salah satu wilayah bagian dari desa Cisoka yang bernama Girang Mukti.


B.          Nama Desa Cisoka

Ada dua pendapat mengenai asal terjadinya nama Cisoka tersebut. Menurut bapak Miarsa, Cisoka bersal dari kata cis yang berarti keris dan soka yang berarti bunga soka. Jadi arti dari Cisoka itu sendiri adalah keris dan bunga. Menurutnya, tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menyebutkan kata tersebut tetapi perpaduan antara kedua kata tersebut diambil dari bunga soka yang memang pada saat itu di desa Cisoka terdapat banyak sekali tumbuh bunga soka, dan keris yang merupakan benda pusaka. Tetapi saat ini keris tersebut tidak ada wujud atau peninggalannya. Menurut beliau keris tersebut disimpan oleh seseorang yang tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini.
Pendapat ke dua mengatakan bahwa nama Cisoka berasal dari kata ci yang artinya air (cai) dan soka yang artinya bunga soka. Kedua kata tersebut dicetuskan oleh seseorang yang tidak diketahui namanya, karena saat itu di desa Girang banyak sekali bunga soka yang tumbuh di pinggir sungai, maka banyak yang mengatakan “cisoka” dan akhirnya terjadilah Desa Cisoka. Sejak saat itu, desa Cisoka yang bertempat di desa Girang memperluas wilayah.

C.          Kondisi Desa Cisoka

Pada umumnya, mayoritas penduduk di Desa Cisoka bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini didukung dengan luasnya lahan pertanian yang ada di wilayah Desa Cisoka karena sekitar 50% wilayah Desa Cisoka merupakan pesawahan. Selain itu keadaan tanah dan ketersediaan air yang cukup juga menjadi faktor penunjang lainnya. Selain petani, ada juga yang berternak ayam maupun bebek atau hewan ternak lainnya. Sisanya adalah PNS dan pedagang.

Terdapat beberapa nama kepala desa yang pernah menjabat sebagai pemimpin di Desa Cisoka, diantaranya:

1.                  Suranata (1966 - 1701)
2.                  Sokaprana (1701 - 1706)
3.                  Sacaprana (1706 – 1721)
4.                  Demang Sentana (1721 – 1728)
5.                  Jaya Langina (1728 – 1731)
6.                  Wirat Napraja (1731 – 1741)
7.                  Jaya Wersana (1741 – 1749)
8.                  Ayah Praja (1749 – 1752)
9.                  Jangga Wersa (1752 – 1780)
10.             Suriya Atmaraja (1780 – 1794)
11.             Jawa Wersana (1794 – 1803)
12.             Suningrat (1803 –1818)
13.             Kersasana (1818 – 1825)
14.             Ayah Kimong  (1825 – 1844)
15.             Ayah Artinah (1844 – 1862)
16.             Kojo (1862 – 1876)
17.             Jaya Reksa (1876 – 1896)
18.             Tia (1896 – 1906)
19.             Alani (1906 – 1915)
20.             Sutijem (1915 – 1916)
21.             Wangsa Wijaya (1916 – 1928)
22.             Kaswijan (1928 – 1950)
23.             Sukarna (1957 – 1968)
24.             Madsupi (1969 – 1973)
25.             Sumarno (1973 – 1980)
26.             Tarsono (1981 – 1989)
27.             Diwo Surdiwo (1990 – 1999)
28.             Rochman (2001 - 2010)
29.             Kosidin (2011 – sekarang)

Pembagian wilayah Desa Cisoka diantaran, Soka Jaya (pusat pemerintahan), Girang Mukti, Cioyong,  Srimulya dan Sukamulya.

Ps: Cerita ini berdasarkan wawancara dengan Bapak Miarsa. Tidak ada penambahan ataupun pengurangan dalam isi cerita, hanya saja penulis mencoba menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena file yang penulis punya adalah dalam bahasa Sunda. Apabila ada kesalahan dalam penyusunan kata maupun kalimat mohon maaf. Dan apabila ada kesalahan dalam cerita maupun ada versi lain dalam sejarah desa Cisioka silahkan dikoreksi dan ditambahkan.