Melihat dan mendengar orang-orang luar biasa di sekitar gue yang bertahan dalam masa yang tidak menyenangkan dan bisa keluar dari zona tersebut begitu mengesankan. Pasti begitu banyak air mata dan peluh yang menetes disetiap detiknya. Kegagalan, ketidak nyamanan, rasa ketidak adilan, rasa kecewa bahkan rasa tidak puas dan putus asa pasti juga sering menghinggapi dan menghasut agar mereka berontak dan mengutuk takdir. Keluhan pasti sering terlontar namun itu hal biasa karena pada dasarnya manusia memiliki titik jenuh. Tapi iman dan tekad yang kuat serta dukungan dan doa dari orang-orang tercinta merupakan stimulus, semangat baru dan kekuatan yang membuat diri mereka yakin akan tujuan awal yang hendak dicapai.
Mungkin menghadapi zona yang tidak kita harapkan adalah sebuah ujian yang sangat berat untuk kita hadapi dibandingkan dengan sesuatu yang kita harapkan. Tapi berada di zona nyaman pun itu lebih mengerikan dibandingkan dengan rasa tidak nyaman terhadap apa yang tidak kita harapkan namun Tuhan memberikannya pada kita. Melihat orang-orang yang telah sukses di luar sana, dalam proses untuk mencapai kesuksesan tersebut, mereka banyak melewati masa dimana sebenarnya mereka sendiripun tidak menginginkannya namun mereka tetap menghadapinya. Maka kesuksesan memang layak mereka dapatkan sebagai hasil dari apa yang telah mereka korbankan.
Suatu hari yang membuat gue bosan, gue amat terkejut dengan pertanyaan dosen gue. Waktu itu gue memasuki pertengahan semester 2 dan jujur, gue masih belum menyukai jurusan yang gue ambil. Gue merasa bahwa passion gue bukan di sana dan gue benar-benar salah masuk jurusan.
"Sebelum kalian diterima di jurusan ini ketika kalian menuliskan beberapa jurusan saat mendaftar kuliah entah jalur undangan atau tes, apakah kalian berdoa kepada Tuhan kalian agar dipilihkan di jurusan yang terbaik dari yang terbaik?" Itu pertanyaan dosen gue yang membuat gue bingung. Gue pun menjawab ya serentak bersama teman- teman kelas gue.
"Apa ada yang masih menyesal atau justru ingin pindah dari jurusan ini?" Pertanyaan kedua ini yang langsung membuat gue berfikir ulang tentang jawaban yang gue utarakan dipertanyaan pertama. Namun diantara teman-teman gue ada yang mengatakan iya dan ingin pindah dari jurusan ini karena memiliki alasan yang sama seperti gue, salah masuk jurusan.
Hanya dengan dua pertanyaan ini, gue merasa bahwa diri gue begitu keterlaluan. Namun penjelasan dosen gue yang membuat gue semakin malu sekaligus sadar dengan apa yang telah gue perbuat sebelumnya.
Dosen gue mengatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah menempatkan hambanya di tempat yang salah. Takdir memang terkadang menyakitkan. Ketika kita berada dalam dua pilihan A dan B misalnya. Kita ingin A tapi Tuhan memberikan B dan kita meminta kepada Tuhan agar diberikan yang terbaik, maka pilihan yang bukan kita inginkanlah yang kita ambil. Jangan pernah sedikitpun berburuk sangka terhadap takdir Tuhan apalagi sampai mengatakan bahwa Tuhan tidak adil karena tidak ada yang tahu bahwa Tuhan telah menghadirkan sesuatu yang sangat indah untuk kita di depan sana dan satu-satunya cara untuk meraihnya adalah dengan kita harus melewati zona-zona yang tidak kita harapkan.
"Mungkin, kalian akan menjadi orang yang berpengaruh dan sedang ditunggu oleh masyarakat banyak di luar sana untuk membantu mereka keluar dari kemiskinan yang membelenggu suatu saat nanti. Ketika kalian meminta kepada Tuhan untuk dipilihkan kepada pilihan yang paling baik, maka inilah yang terbaik untuk kalian."
Semua penjelasan itu seolah menampar diri gue. Gue benar-benar mencerna setiap kata yang diucapkan dosen gue. Betapa sombongnya gue kepada Tuhan. Meminta kepadaNya tetapi setelah Dia berikan gue masih tidak merasa puas dan malah mengeluh bukan bersyukur. Sejak itu, gue mencoba untuk berdamai dengan diri gue walau masih banyak perdebatan dalam batin gue tentang kuliah gue. Tetapi perlahan gue mulai merubah pola pikir gue terhadap sesuatu yang gue hadapi bahkan sesuatu itu bukan kehendak gue. Hal itu berarti gue harus ikhlas menghadapinya karena itu anugerah Tuhan yang diberikan untuk gue. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti yang telah gue dapatkan dan gue yakin bahwa semua ini telah Tuhan rencanakan untuk gue. Sekarang gue selalu yakin bahwa rencana Tuhan itu baik dan akan selalu indah pada waktunya. Karena Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Cerita ini gue tulis bukan karena gue orang yang baik tetapi hanya sekedar ingin berbagi pengalaman. Gue jauh dari sempurna dan diri gue tidak lebih baik dari orang lain.