Jumat, 07 November 2014

What's the Meaning of Free?




Sekarang gue gak paham tentang apa itu kebebasan. Senior gue cerita, terkadang 24 jam itu adalah waktu yang kurang bagi manusia-manusia yang memiliki kesibukan luar biasa. Namun bagi gue, jangankan 24 jam, satu menit saja terasa begitu lama. Mungkin gue gila. Tapi mungkin juga tidak bagi orang yang tidak menyukai kondisi yang tidak nyaman. Walapun dosen gue mengatakan bahwa kenyamanan itu berbahaya, tapi gue membutuhkan itu. Gue ingin merasakan sedikit kenyamanan ketika gue berada di tengah orang-orang yang begitu multikultural.

Ketika teman-teman gue menikmati setiap kebersamaan yang terlewati setiap harinya, gue ikut berbaur tapi tidak menikmati kebersamaan itu. Kesalahan bukan ada pada mereka, melainkan pada diri gue sendiri. Anggapan bahwa kebersamaan yang semu, itu selalu terngiang di benak gue. Kebersamaan hanya ada dalam kondisi tertentu itu yang gue rasakan. Gue sedikit menutup diri untuk mereka yang tidak cocok dengan pribadi gue. Apakah banyak dari mereka yang tidak menyukai sifat gue? Pastinya ada, dan itu tidak membuat gue  terbebani, toh gue tidak menuntut siapapun untuk menyukai gue dan menjadikan gue orang yang disegani oleh siapapun dengan pribadi yang palsu karena gue tidak menginginkan hal itu.
Teman-teman gue begitu sibuk tidak hanya dengan tugas yang diberikan dosen, tetapi juga dengan organisasi-organisasi yang sekarang gencar mencari kader-kader baru. Mereka dapat merealisasikan rekomendasi dosen-dosen yang mengatakan bahwa laboratorium mahasiswa sosial itu adalah organisasi. Sedangkan gue, gue masih sibuk dengan adaptasi yang entah kapan akan berakhir. Ajakan dari teman-teman gue hanya gue jawab dengan senyuman atau kata-kata yang gue sendiripun tidak begitu mengerti dengan apa yang gue ucapkan. Gue bertepuk tangan untuk mereka yang gue anggap luar biasa dan terkadang mentertawakan diri sendiri ketika kondisi mendesak gue.
Selalu ada keanehan yang membuat gue belum merasa nyaman. Sebagian orang hanya menyemangati orang tertentu karena orang-orang tersebut memiliki ikatan batin entah itu pertemanan atau kepentingan gue pun nggak tau, dan sebagian lagi menyemangati semua orang yang dianggapnya sebagai orang yang berhak mendapatkan itu. Itu yang pernah gue alami ketika gue berjuang dalam suatu acara. Gue memang tidak begitu berperan besar di sana. Tapi karena hal itu, saya menjadi enggan untuk berpartisipasi dalam acara-acara selanjutnya. Gue anggap semuanya wajar, karena manusia yang terlahir kembar sekalipun tidak akan memiliki sifat yang persis sama. Gue pun tidak bisa menuntut mereka untuk menjadi apa yang gue inginkan dan merekapun sebaliknya, tidak bisa menuntut gue untuk menjadi seperti yang mereka inginkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar