Sekarang
gue gak paham tentang apa itu kebebasan. Senior gue cerita, terkadang 24 jam
itu adalah waktu yang kurang bagi manusia-manusia yang memiliki kesibukan luar
biasa. Namun bagi gue, jangankan 24 jam, satu menit saja terasa begitu lama.
Mungkin gue gila. Tapi mungkin juga tidak bagi orang yang tidak menyukai
kondisi yang tidak nyaman. Walapun dosen gue mengatakan bahwa kenyamanan itu
berbahaya, tapi gue membutuhkan itu. Gue ingin merasakan sedikit kenyamanan
ketika gue berada di tengah orang-orang yang begitu multikultural.
Ketika
teman-teman gue menikmati setiap kebersamaan yang terlewati setiap harinya,
gue ikut berbaur tapi tidak menikmati kebersamaan itu. Kesalahan bukan ada
pada mereka, melainkan pada diri gue sendiri. Anggapan bahwa kebersamaan yang
semu, itu selalu terngiang di benak gue. Kebersamaan hanya ada dalam kondisi
tertentu itu yang gue rasakan. Gue sedikit menutup diri untuk mereka yang
tidak cocok dengan pribadi gue. Apakah banyak dari mereka yang tidak menyukai
sifat gue? Pastinya ada, dan itu tidak membuat gue terbebani, toh gue tidak menuntut siapapun
untuk menyukai gue dan menjadikan gue orang yang disegani oleh siapapun
dengan pribadi yang palsu karena gue tidak menginginkan hal itu.
Teman-teman
gue begitu sibuk tidak hanya dengan tugas yang diberikan dosen, tetapi juga
dengan organisasi-organisasi yang sekarang gencar mencari kader-kader baru.
Mereka dapat merealisasikan rekomendasi dosen-dosen yang mengatakan bahwa
laboratorium mahasiswa sosial itu adalah organisasi. Sedangkan gue, gue masih
sibuk dengan adaptasi yang entah kapan akan berakhir. Ajakan dari teman-teman gue hanya gue jawab dengan senyuman atau kata-kata yang gue sendiripun tidak
begitu mengerti dengan apa yang gue ucapkan. Gue bertepuk tangan untuk mereka
yang gue anggap luar biasa dan terkadang mentertawakan diri sendiri ketika
kondisi mendesak gue.
Selalu
ada keanehan yang membuat gue belum merasa nyaman. Sebagian orang hanya
menyemangati orang tertentu karena orang-orang tersebut memiliki ikatan batin
entah itu pertemanan atau kepentingan gue pun nggak tau, dan sebagian lagi
menyemangati semua orang yang dianggapnya sebagai orang yang berhak mendapatkan
itu. Itu yang pernah gue alami ketika gue berjuang dalam suatu acara. Gue memang
tidak begitu berperan besar di sana. Tapi karena hal itu, saya menjadi enggan
untuk berpartisipasi dalam acara-acara selanjutnya. Gue anggap semuanya wajar,
karena manusia yang terlahir kembar sekalipun tidak akan memiliki sifat yang
persis sama. Gue pun tidak bisa menuntut mereka untuk menjadi apa yang gue inginkan
dan merekapun sebaliknya, tidak bisa menuntut gue untuk menjadi seperti yang
mereka inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar